Kasus Pembelajaran TAP

Kasus Pelajaran Bahasa Indonesia

Pak Insan Kamil mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Suaka Maju Topik yang diajarkan adalah Membaca Permulaan. Metode yang digunakan adalah metode SAS. Selama plajaran berlangsung siswa dilatih membaca dengan langkah-langkah yang dianjurkan dalam metode SAS. Akan tetapi para siswa membaca tujuh langkah membaca permulaan yang disarankan metode SAS tampak seperti menghafal unsur-unsur kalimat tersebut. Akibatnya, hasil pembelajaran membaca permulaan tidak seperti yang diharapkan. Para siswa mampu membaca (membunyikan) tetapi tidak mampu menunjuk unsur kalimat yang dibaca pada waktu membacanya.

1.  Selama pelajaran berlangsung siswa Pak Insan Kamil kurang mampu menunjuk unsur kalimat yang dibaca pada waktu pembacaan berlangsung

2.  Evaluasi hasil belajar siswa yang dilakukan Pak Insan Kamil menunjukkan bahwa 25 % siswa mendapatkan nilai kurang baik; siswa belum mampu membaca unsur kalimat dengan tepat

       Dari kasus itu dapat diketahui bahwa para siswa SD kelas II yang Pak Insan Kamil bina dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menunjukan bahwa ada sebagian siswa yang mendapatkan masalah. Masalah itu adalah sebagian siswa Belem mampu membaca dengan penunjukan yang benar anatara yang dibaca dengan penunjuknya, sehingga dari evaluasi yang dilakukan ditemukan siswa yang hasil belajarnya kurang mencapai 25%. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah :

1.  Mengapa sebagian siswa Pak Insan Kamil kurang mampu membaca dengan penunjukan unsur yang dibacanya secara tepat? Tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal tersebut?

2.   Bagaimana perbaikan pelaksanaan metode SAS harus dilakukan agar hasil belajar siswa menjadi lebih baik?

       Untuk menyelesaikan permasalahan kasus pembelajaran yang dilakukan Pak Ahmad tersebut perlu dilakukan langkah berikut.

  1. Siswa yang kurang mampu membaca dengan penunjukan yang tepat, seperti telah dijelaskan di atas, disebabkan pada saat latihan membaca siswa kurang mendapatkan perhatian ketepatan penunjuk dengan yang dibacanya. Tujuh langkah metode SAS yang dianjurkan tidak dilaksanakan guru secara benar. Para siswa waktu membaca seperti membaca kelimat biasa. Pada hal langkah (1) metode SAS kalimat dibaca sebagai kalimat, (2), kalimat dibaca berdasar unsur kata-katanya, (3) kalimat dibaca berdasar unsur suku katanya, (4) kalimat dibaca berdasar unsur fonem (huruf) nya, (5) kalimat dibaca berdasar unsur suku katanya, (6) kalimat dibaca berdasar unsur katanya, dan langkah (7) kalimat dibaca sebagai kalimat. Dengan langkah pembacaan seperti itu diharapkan pembelajaran membaca permulaan melibatkan siswa secara mental dalam bentuk proses struktural-analitis-sintetis (SAS).
  2. Untuk memperbaiki teknik pembelajaran membaca permulaan sebagaimana dijelaskan tersebut, guru harus melakukan beberapa perbaikan teknis penggunan metode SAS. Perbaikan teknik pembelajaran tersebut dapat dilakukan dengan beberapa kemungkinan sebagai berikut; (a) menerapkan secara tepat teknik pembacaan bahan ajar sebagaimana dianjurkan metode SAS, (b) menerapkan teknik pembacaan bahan ajar dengan metode SAS yang dimodifikasi, (c) memodifikasi tataan materi ajar yang memberi peluang siswa membaca lebih melibatkan mental psyche dalam metode SAS, atau yang lain. Dengan memodifikasi tataan materi ajar yang disajikan dengan model SAS itu diharapkan proses siswa ”membaca menghafal” itu dapat dieliminir.

       Pemanfaatan model metode SAS sebagaimana telah berlangsung selama ini ternyata ada kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Meskipun kendala itu dapat diatasi, mengatasinya tidak mudah. Para guru akan kesulitan ”mempertahankan” dan ”menepatkan” model teknik SAS sebagaimana tuntutan SAS. Kemungkinan  (b) juga tidak dianjurkan (dipilih) karena momodifikasi teknik pembacaan model teknik SAS, masih cenderung memelesetkan guru kembali ke teknik model SAS yang selama ini mereka laksanakan. Oleh karena itu yang dianjurkan adalah model teknik ”memodifikasi bahan ajar SAS”.

      Model teknik SAS yang memodifikasi bahan ajar ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaannya para guru tidak ”terpeleset” dengan hanya mendrill bahan ajar yang mengakibatkan para siswa hanya menghafal, tanpa mampu membaca secara tepat. Salah satu alternatif yang diajukan dapat dipakai untuk menghindari tubian yang menjadikan anak terjebak dalam penghafalan adalah dengan menata ulang bahan ajar model teknik SAS.

       Caranya adalah, bahan ajar yang akan didrill-kan disusun sedemikian rupa variasinya sehingga tidak akan “terhafal” oleh siswa. Cara ini akan dapat “memaksa” siswa mengenali dan memahami bahan ajar tersebut, tanpa mengurangi kebermaknaan bahan ajar itu bagi kehidupan nyata sehari-hari si anak. Dengan demikian, anak diharapkan mendapatkan susunan kalimat yang mengandung makna positif, sekaligus mendapatkan peluang kebermaknaan bahan tubian sebagai sarana belajar membaca secara cepat, tepat, dan lancar.

       Untuk sementara penulis berpendapat model bahan ajar itu kita sebut saja dengan metode SAS yang diperbaiki. Ke depan, sarana tubian yang diharapkan dapat dilakukan anak SD kelas rendah dalam belajar membaca permulaan harus terdiri atas beberapa paket, mengingat jumlah huruf yang dipakai dalam bahasa Indonesia ada 28 (dua puluh delapan) huruf. Setiap paket diharapkan minimal mengandung 5 (lima) huruf, sehingga secara keseluruhan akan terdiri atas 6 (enam) paket. Namun karena keterbatasan waktu, sambil terus menunggu hasil pelaksanaan uji coba, untuk sementara disajikan salah satu paket model tubian yang sekaligus dipakai sebagai bahan pemerjelas paparan dalam makalah ini.

 

Contoh Kasus Pembelajaran

Kasus Pelajaran Bahasa Indonesia

Pak Insan Kamil mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Suaka Maju Topik yang diajarkan adalah Membaca Permulaan. Metode yang digunakan adalah metode SAS. Selama plajaran berlangsung siswa dilatih membaca dengan langkah-langkah yang dianjurkan dalam metode SAS. Akan tetapi para siswa membaca tujuh langkah membaca permulaan yang disarankan metode SAS tampak seperti menghafal unsur-unsur kalimat tersebut. Akibatnya, hasil pembelajaran membaca permulaan tidak seperti yang diharapkan. Para siswa mampu membaca (membunyikan) tetapi tidak mampu menunjuk unsur kalimat yang dibaca pada waktu membacanya.

1.  Selama pelajaran berlangsung siswa Pak Insan Kamil kurang mampu menunjuk unsur kalimat yang dibaca pada waktu pembacaan berlangsung

2.  Evaluasi hasil belajar siswa yang dilakukan Pak Insan Kamil menunjukkan bahwa 25 % siswa mendapatkan nilai kurang baik; siswa belum mampu membaca unsur kalimat dengan tepat

       Dari kasus itu dapat diketahui bahwa para siswa SD kelas II yang Pak Insan Kamil bina dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menunjukan bahwa ada sebagian siswa yang mendapatkan masalah. Masalah itu adalah sebagian siswa Belem mampu membaca dengan penunjukan yang benar anatara yang dibaca dengan penunjuknya, sehingga dari evaluasi yang dilakukan ditemukan siswa yang hasil belajarnya kurang mencapai 25%. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah :

1.  Mengapa sebagian siswa Pak Insan Kamil kurang mampu membaca dengan penunjukan unsur yang dibacanya secara tepat? Tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal tersebut?

2.   Bagaimana perbaikan pelaksanaan metode SAS harus dilakukan agar hasil belajar siswa menjadi lebih baik?

       Untuk menyelesaikan permasalahan kasus pembelajaran yang dilakukan Pak Ahmad tersebut perlu dilakukan langkah berikut.

  1. Siswa yang kurang mampu membaca dengan penunjukan yang tepat, seperti telah dijelaskan di atas, disebabkan pada saat latihan membaca siswa kurang mendapatkan perhatian ketepatan penunjuk dengan yang dibacanya. Tujuh langkah metode SAS yang dianjurkan tidak dilaksanakan guru secara benar. Para siswa waktu membaca seperti membaca kelimat biasa. Pada hal langkah (1) metode SAS kalimat dibaca sebagai kalimat, (2), kalimat dibaca berdasar unsur kata-katanya, (3) kalimat dibaca berdasar unsur suku katanya, (4) kalimat dibaca berdasar unsur fonem (huruf) nya, (5) kalimat dibaca berdasar unsur suku katanya, (6) kalimat dibaca berdasar unsur katanya, dan langkah (7) kalimat dibaca sebagai kalimat. Dengan langkah pembacaan seperti itu diharapkan pembelajaran membaca permulaan melibatkan siswa secara mental dalam bentuk proses struktural-analitis-sintetis (SAS).
  2. Untuk memperbaiki teknik pembelajaran membaca permulaan sebagaimana dijelaskan tersebut, guru harus melakukan beberapa perbaikan teknis penggunan metode SAS. Perbaikan teknik pembelajaran tersebut dapat dilakukan dengan beberapa kemungkinan sebagai berikut; (a) menerapkan secara tepat teknik pembacaan bahan ajar sebagaimana dianjurkan metode SAS, (b) menerapkan teknik pembacaan bahan ajar dengan metode SAS yang dimodifikasi, (c) memodifikasi tataan materi ajar yang memberi peluang siswa membaca lebih melibatkan mental psyche dalam metode SAS, atau yang lain. Dengan memodifikasi tataan materi ajar yang disajikan dengan model SAS itu diharapkan proses siswa ”membaca menghafal” itu dapat dieliminir.

       Pemanfaatan model metode SAS sebagaimana telah berlangsung selama ini ternyata ada kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Meskipun kendala itu dapat diatasi, mengatasinya tidak mudah. Para guru akan kesulitan ”mempertahankan” dan ”menepatkan” model teknik SAS sebagaimana tuntutan SAS. Kemungkinan  (b) juga tidak dianjurkan (dipilih) karena momodifikasi teknik pembacaan model teknik SAS, masih cenderung memelesetkan guru kembali ke teknik model SAS yang selama ini mereka laksanakan. Oleh karena itu yang dianjurkan adalah model teknik ”memodifikasi bahan ajar SAS”.

      Model teknik SAS yang memodifikasi bahan ajar ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaannya para guru tidak ”terpeleset” dengan hanya mendrill bahan ajar yang mengakibatkan para siswa hanya menghafal, tanpa mampu membaca secara tepat. Salah satu alternatif yang diajukan dapat dipakai untuk menghindari tubian yang menjadikan anak terjebak dalam penghafalan adalah dengan menata ulang bahan ajar model teknik SAS.

       Caranya adalah, bahan ajar yang akan didrill-kan disusun sedemikian rupa variasinya sehingga tidak akan “terhafal” oleh siswa. Cara ini akan dapat “memaksa” siswa mengenali dan memahami bahan ajar tersebut, tanpa mengurangi kebermaknaan bahan ajar itu bagi kehidupan nyata sehari-hari si anak. Dengan demikian, anak diharapkan mendapatkan susunan kalimat yang mengandung makna positif, sekaligus mendapatkan peluang kebermaknaan bahan tubian sebagai sarana belajar membaca secara cepat, tepat, dan lancar.

       Untuk sementara penulis berpendapat model bahan ajar itu kita sebut saja dengan metode SAS yang diperbaiki. Ke depan, sarana tubian yang diharapkan dapat dilakukan anak SD kelas rendah dalam belajar membaca permulaan harus terdiri atas beberapa paket, mengingat jumlah huruf yang dipakai dalam bahasa Indonesia ada 28 (dua puluh delapan) huruf. Setiap paket diharapkan minimal mengandung 5 (lima) huruf, sehingga secara keseluruhan akan terdiri atas 6 (enam) paket. Namun karena keterbatasan waktu, sambil terus menunggu hasil pelaksanaan uji coba, untuk sementara disajikan salah satu paket model tubian yang sekaligus dipakai sebagai bahan pemerjelas paparan dalam makalah ini.

 

Contoh Rangcangan Pemberian Tugas Tutorial

RANCANGAN PEMBERIAN TUGAS TUTORIAL

Kode dan Nama Mata kuliah  :  PSOS4407 Teknik Menulis Karya Ilmiah

Pokok Bahasan                            :  1. Hakikat dan Karakteristik Karya Ilmiah

2. Persiapan Menulis Karya Ilmiah

Nama Pengembang                  :  Sinarmawati, S.Pd.,M.Pd.

Masa Registrasi                          :  2010.2

Rentang Skor                               :  10 – 100 Pokok

Tujuan Instruksional Khusus/TIK   :

  1. Menjelaskan tujuan penulisan karya ilmiah
  2. Menjelaskan karakteristik karya ilmiah
  3. Menjelaskan tahap-tahap persiapan karya ilmiah
  4.  Menjelaskan cara mengumpulkan informasi bahan untuk tulisan

Uraian Tugas   :

  1. Kita sebagai seorang guru tentu sering membaca karya ilmiah bahkan sekarang kita dituntut untuk mampu menulis karya ilmiah, karena karya ilmiah ini demikian pentingnya. Coba jelaskan tujuan penulisan karya ilmiah!
  2.  Jelaskan karakteristik karya ilmiah!
  3. Tuliskan tahap-tahap persiapan karya ilmiah!
  4. Jelaskan cara mengumpulkan informasi bahan untuk menulis!

Puisi

Cita-cita, Mungkinkah?

Lembayung senja nampak memerah di atas pelangi

Hati  remuk, hancur, tak terurai lagi

gelombang pasang kian menerjang seolah menelan segala yang ada,

gemuruh ombak kian terasa dekat berlari-larian,  bertalu-talu

Angan hendak menggapai namun hilang sebelum terjamah.

Aku  berlari sekencang-kencangnya namun napas pupus pupus pupus!

tak tergapai

Cita-citaku cita-citanya cita-cita semua orang, semua orang, semua orang

Mungkinkah? jawabnya

tanya pejabat,

tanya menteri,

tanya pemerintah, pemerintah, pemerintah.

Aku, kau, mereka, Mungkinkah?

 

 

 

 

Contoh soal kasus TAP

Kasus Pembelajaran Bahasa Indonesia SD

Bu Samsia seorang guru kelas V SD Mallusetasi yang mau mencoba menerapkan pendekatan terpadu yakni memadukan pelajaran bahasa Indonesia dan kerajinan tangan. Jumlah siswa kelas V sebanyak 42 orang dengan tingkat kecerdasan yang hamper sama. Sikap atau perkembangan jiwa mereka pun biasa-biasa saja, tidak ada yang memiliki keistimewaan.

Hasil belajar yang diharapkan dari pembelajaran terpadu tersebut adalah siswa diharapkan mampu:

  1. Membaca puisi ’Teratai’ dengan baik;
  2. Menceritakan / menjelaskan isi puisi ‘Teratai’;
  3. Membuat bunga teratai dari kertas krep.

Di dalam perencanaan (RP) Bu Samsia menyediakan waktu untuk proses pembelajaran ini selama 2 kali pertemuan dengan rincian waktu; untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia 1 x 4 jam pelajaran a 35 menit, mata pelajaran Kerajinan tangan 1 x 2 jam pelajaran a 35 menit. Alat peraga atau bahan, media sudah dipersiapkan dengan baik, siswa hanya diminta menyiapkan sendiri alat lain yang diperlukan untuk membuat kerajinan tangan membuat bunga teratai.

Setelah waktu yang ditetapkan selesai (2 x pertemuan), ternyata apa yang diharapkan dan direncanakan BU Samsia tidak seluruhnya tercapai, tidak semua siswa memperoleh skor membaca puisi, dan tidak ada seorang siswa pun yang dapat menyelesaikan hasil kerajinan tangan membuat kembang.

  1. Analisislah kasus tersebut, temukan 4 masalah dalam pembelajaran tersebut!
  2. Berikan alasan atas hasil analisis Anda!
  3. Kemukakanlah alternatif  pemecahannya!

Petunjuk menganalisis masalah!

  1. Bacalah dengan cermat wacana kasus tersebut!
  2. Perhatikan kelemahan yang tidak disadari bu Samsia dalam melaksanakan pembelajaran secara terpadu.

RAT Mata Kuliah Materi dan Pembelajaran BI SD

RANCANAGAN AKTIVITAS TUTORIAL (RAT)

 

 

Mata Kuliah                           : Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD

Semester                                 : 9

Nama Tutor                            : Sinarmawati, S.Pd., M.Pd.

Kode/SKS                              : PDSD 4405/3 SKS

Deskripsi Singkat                   : Mata kuliah ini menguraikan hakikat bahasa dan belajar bahasa, kajian kurikulum, aspek-aspek  kebahasaan yang meliputi fonologi, ejaan, morfologi, serta sintaksis. Mata kuliah ini juga menyajikan pembelajaran keterampilan berbahasa lisan, tulis dan sastra anak, yang dilengkapi berbagai pendekatan pembelajaran bahasa serta penerapan dan penilaiannya dalam pembelajaran di sekolah dasar.

Kompetensi Umum                : Mahasiswa dapat memahami materi serta menguasai penerapannya dalam pengajaran bahasa dan sasatra Indonesia.

No

Kompetensi Khusus

Pokok Bahasan

Sub Pokok Bahasan

Tugas Tutorial & Bobot Nilai

Estimasi Waktu

Daftar Pustaka

Tutorial ke

1

2

3

4

5

6

7

8

1.

Menjelaskan hakikat bahasa, hakikat belajar bahasa, dan menerapkan sebagai pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di Sekolah Dasar. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
  1. Hakikat bahasa dan belajar bahasa
  2. Strategi pembelajaran bahasa
  • Pre tes
  • Bertanya jawab mengenai materi yang esensial,
  • Merangkum.
120 menit Puji Santosa dkk. (2008) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Buku materi pokok modul 1 Jakarta, Universitas Terbuka.

Pertemuan 1

2.

Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan berbagai pedekatan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di Sekolah dasar Pedekatan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar
  1. Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa

Pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran bahasa Indonesia

  1. Pendekatan komunikatif dalam pembeajaran bahasa Indonesia
  • Tanya jawab
  • Mendiskusikan istilah-istilah pokok
  • Pemberian tugas,
120 menit Puji Santosa dkk. (2008) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Buku materi pokok modul 2 Jakarta, Universitas Terbuka. Pertemuan 2

3.

Menjelaskan  manfaat, komponen-kompone yang terdapat dalam   kurikulum dengan benar dan mengkaji, mengembangkan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar

Menyusun silabus pembelajaran bahasa Indonesia SDKajian kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar

  1. Mengkaji komponen-komponen kurikulum mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SD
  2. Pengembangan hasil kajian kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia SD
  • Diskusi
  • Mengembangkan standar isi kurikulum bahasa Indonesia ke dalam bentuk indikator kompetensi.

120 menitPuji Santosa dkk. (2008) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Buku materi pokok modul 3 Jakarta, Universitas Terbuka.

Pertemuan 3

4.

Menjelaskan pengertian fonologi dalam bahasa Indonesia, membedakan ilmu-ilmu bahasa yang tercakup dalam fonologi, menuliskan fonem-fonem dengan ejaan yang benar, mengidentifikasi fonem-fonem bahasa Indonesia dengan benar,

 

menjelaskan sistim morfologi bahasa Indonesia, memilih materi ajar fonologi, ejaan, dan morfologi bahasa Indonesia SD, Mampu memahami pembelajaran sintaksis (kalimat dalam bahasa Indoesia)1.Sistim Fonolog, Ejaan, Morfologi, Bahasa Indonesia

2.Sintaksis Bahasa Indonesia

  1. Sistim fonologi  dan ejaan bahasa Indonesia
  2. Sistim morfologi (kata)  dalam bahasa Indonesia
  1. Kalimat bahasa Indonesia SD
  2. Pelaksanaan pembelajaran bahasa SD
  • uji kemampuan siswa  dengan model Number Heads Together
  • Mengidentifikasi kesalahan dari segi fonologi, ejaan, morfologi, dan sintaksis buku “Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD” karangan Puji Antosa dkk.

120 MenitPuji Santosa dkk. (2008) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Buku materi pokok modul 4 dan 5  Jakarta, Universitas Terbuka.

Pertemuan 4

 

5.

Memilih materi pembelajaran keterampilan berbahasa tulis dan lisan, serta mengaplikasikan model-model pembelajaran keterampilan bahasa tulis dan lisan.Pembelajaran Keteramilan Berbahasa di SD

  1. Pembelajaran keterampilan berbahasa tulis
  2. Pembelajaran keterampilan berbahasa lisan

 

  • Bertanya jawab mengenai materi pembelajaran keterampilan berbahasa tulis dan lisan
  • Mengarang yang sesuai dengan EYD dan
  • Berbicara yang baik berdasarkan kriteri

120 menitPuji Santosa dkk. (2008) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Buku materi pokok modul 6 Jakarta, Universitas Terbuka.Pertemuan 5

6.

Menentukan teknik penilaian pembelajaran keterampilan tulis dan lisan, serta mengaplikasikan model penilaian  pembelajaran keterampilan bahasa tulis dan lisan.Penilaian keterampilan berbahasa Indonesia di SD

  1. Penilaian pembelajaran keterampilan berbahasa tulis
  2. Penilain pembelajaran keterampilan berbahasa lisan

 

  • Bertanya jawab mengenai pengelasifikasian penilain pembelajaran keterampilan berbahasa lisan dan tulis
  • Merangkum

 

120 menitPuji Santosa dkk. (2008) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Buku materi pokok modul 7 Jakarta, Universitas TerbukaPertemuan 67.Menjelaskan  hakikat sastra anak, mengapresiasi sastra anak, dan melaksanakan pembelajaran sastra anak dibangku sekolah dasarPembelajaran apresiasi sastra di sekolah dasar

  1. Hakikat sastra anak
  2. Apresiasi sastra anak
  3. Pembelajaran apresiasi sastra anak

 

  • Mengidentifikasi topik utama kemudian mendiskusikannya
  • Merancang pembelajaran bahasa Indonesia berbasis sastra anak,

120 menitPuji Santosa dkk. (2008) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Buku materi pokok modul 8 Jakarta, Universitas TerbukaPertemuan 7

8.

Menjelaskan hakikat dan manfaat kamus dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia SD, member contoh serta menyusun kamus sederhana dalam pembelajaran bahasa dan sastra IndonesiaKamus

  1. Hakikat dan manfaat kamus
  2. Penyusunan kamus sederhan
  • Mengidentifikasi kata-kata asing dan mencarinya di kamus
  • Menuliskan perbendaharaan kata yang dimiliki masing-masing siswa.

120 menit

Puji Santosa dkk. (2008) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Buku materi pokok modul 9 Jakarta, Universitas Terbuka

Pertemuan 8